Monday, April 2, 2012

ARV, Obat Satu-satunya untuk Virus HIV

Sejak ditemukan hingga sekarang, HIV/AIDS penyakit yang disebabkan retrovirus masih belum bisa diobati secara tuntas. Maksud dari tuntas ini adalah virus tidak 100 persen hilang dari tubuh. Satu-satunya obat untuk melawan virus HIV saat ini adalah ARV atau Anti-Retrovirus. ARV ternyata tidak hanya ada satu macam tetapi ada beberapa jenis, tergantung dari titik tangkapnya terhadap virus HIV. Penderita HIV biasanya diberikan dua atau lebih jenis ARV untuk mencegah terjadinya resistensi terhadap virus ini. Kepala VCT RS Sanglah Prof. Dr. dr. Tuty Parwati, Sp.PD.(K) saat ditemui di RS Sanglah, Selasa (2/4) kemarin memaparkan, berdasarkan titik tangkapnya, ARV dibagi atas empat jenis. Yaitu ARV yang bekerja dalam menghambat pembentukan enzim reverse yang berfungsi untuk transkrip RNA virus HIV menjadi DNA manusia, ARV jenis protease inhibitor yang berfungsi memotong untaian panjang asam amino virus sehingga tidak memiliki inti sel dan membuat pekerjaan virus terganggu, ARV kelompok fusion inhibitor yang pemakaiannya baru digunakan di luar negeri serta ARV kelompok antikemokin atau menghambat co-reseptor virus HIV untuk masuk sel darah putih yang menjadi target serangan virus.
READ MORE..
Kemajuan ilmu kedokteran dan teknologinya semakin mempermudah konsumsi obat ARV ini. Jika dulu ARV harus disimpan di pendingin, sekarang ARV lebih fleksibel disimpan dalam suhu ruangan. Satu penderita HIV bisa diberikan kombinasi dari jenis ARV. Sehingga satu penderita bisa mengonsumi dua atau lebih jenis ARV. Untuk mempermudah konsumsi ARV, dikembangkan obat yang mengkombinasikan tiga jenis ARV dalam satu obat sehingga penderita HIV tidak perlu lagi memakan obat dengan jumlah yang banyak. "Ada juga ARV yang cukup diminum satu kali sehari, tapi untuk obat ini belum ada di Indonesia," ujar Tuty. Berdasarkan persyaratan dasar, ARV diberikan kepada penderita HIV jika nilai CD4 atau sel daya tahan tubuhnya mencapai 350 ribu. "Sebenarnya semakin cepat terdeteksi HIV dan semakin dini menjalani terapi ARV justru semakin baik. Hanya pada saat CD4-nya masih bagus, meski ada virus, penderita HIV merasakan dirinya sehat sehingga karena alasan ini kebanyakan dari mereka tidak mau menjalani terapi ARV," papar Tuty. Fungsi ARV adalah menekan perkembangan virus HIV di tubuh sehingga tidak menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Dengan menjalani terapi ARV secara disiplin, teratur dan konsisten, pasien HIV bisa dikatakan ''sembuh'' dari penyakit ini. "Terapi ARV secara teratur dan terkontrol membuat virus tidak terdeteksi dalam darah. Artinya jika virus tidak terdeteksi maka tidak akan menularkan ke orang lain. Pasien pun tetap sehat dan bisa beraktivitas," papar Tuty. Ditambahkan, HIV hampir sama dengan penyakit lainnya yang tidak bisa dikatakan sembuh total. Contohnya kencing manis. Dengan mengonsumsi obat secara teratur, kencing manisnya tidak akan kumat dan bisa hidup seperti orang normal. Namun jika obatnya diputus, kencing manisnya akan kumat lagi. Sama halnya dengan HIV. Jika konsumsi ARV dihentikan, virus akan kembali berkembang biak secara tidak terkendali dan akhirnya menyerang sistem kekebalan tubuh. Dengan meminum ARV secara konstan, penderita HIV bahkan bisa memiliki keturunan tanpa menularkan virus ke pasangan maupun anaknya. "Untuk itu ada pengaturannya mulai dari waktu senggama sampai ibu berhasil hamil harus menjalani program PMTCT atau program pencegahan transfer virus HIV dari ibu ke anak," jelas Tuty. Kegunaan terapi ARV dalam program PMTCT sangat terlihat nyata di mana persentase angka penularan HIV dari ibu ke bayi yang mencapai 15-40 persen bisa ditekan menjadi kurang dari dua persen. Dalam dunia kedokteran, ARV masih menjadi obat satu-satunya untuk menekan virus HIV dari tubuh penderita. Jika ada teknik pengobatan yang mengaku bisa menyembuhkan HIV, lanjut Tuty, kemungkinan besar adalah mengobati penyakit komplikasi dari HIV itu sendiri. "Karena sistem kekebalan tubuh yang diserang, penderita HIV rentan sekali terkena penyakit seperti TBC, jamur dan lainnya. Biasanya pengklaiman penyembuhan pasien HIV adalah penyembuhan penyakit komplikasinya, bukan virusnya," jelas Tuty. Untuk VCT RS Sanglah sendiri telah terdata sekitar 2.000 orang penderita HIV yang menjalani terapi ARV. Paling lama yang mengikuti terapi mulai tahun 1992. "Sampai sekarang pasiennya masih sehat dan mampu beraktivitas seperti biasa," imbuhnya. sumber: Denpasar (Bali Post)

Friday, February 24, 2012

Kerusuhan di LP Kerobokan






sumber:youtube balipost.com

Wednesday, March 30, 2011

Cara membedakan madu asli dan madu tiruan

Madu palsu atau tiruan adalah larutan yang menyerupai madu. Dibuat tanpa pertolongan lebah atau menggunakan gula sebagai nektar. Umumnya mempunyai warna sama dengan madu asli. Karena itu bagi orang awam sulit untuk membedakan antara madu asli dan madu tiruan. Pada perusahaan-perusahaan yang telah mendapat izin produksi akan mencantumkan keterangan produknya sehingga dapat diketahui apakah itu madu asli atau sintetis. Madu sintetis yang beredar di antaranya adalah madu melon, labu semangka, dan kurma.

Sejak lama madu palsu telah banyak diproduksi orang. Dengan cara mencampur glukosa dengan gula pasir, buah, flavour serta zat warna. Di laboratorium madu palsu akan mudah dikenali dengan analisis kimia. Kandungan HMF (5 hydroxyl-methyl furfural) dengan jumlah maksimum 3mg/100gram, aktivitas enzim diastase minimal 5 serta rasio kandungan kalium (K) dan natrium (Na) dalam madu asli sekitar 4,0 sedangkan madu palsu 0,005-0,1.
READ MORE..


Pengujian kadar keaslian madu memang tidak gampang, di samping biayanya juga mahal. Dibutuhkan alat-alat canggih untuk mendeteksi ada tidaknya campuran dengan gula lainnya di dalam madu. Sementara, khasiat madu yang sudah jelas manfaat bagi kesehatan, membuat para pedagang nakal melakukan campuran dengan gula tebu atau gula aren. Bagi orang kebanyakan, rasa manis yang dikeluarkan oleh madu asli dan campuran sulit dibedakan. Dengan melihat dan merasakannya, ahli madu akan dapat membedakan antara madu asli dan yang palsu. Salah satu pengujian yang paling praktis adalah dengan menggunakan pH meter. Madu palsu biasanya memiliki pH 2,4-3,3 atau di atas 5, sedangkan madu asli mempunyai pH 3,4-4,5. Untuk mengetahui lebih lanjut, dapat dilakukan uji kandungan madu di laboratorium. Salah satu laboratorium tempat pengujian madu terdapat di Bogor.


Madu di Indonesia sendiri terbagi menjadi dua, yaitu madu hasil lebah ternak dan madu hutan. Yang dimaksud madu ternak adalah madu tersebut diambil dari nektar bunga pohon-pohon tertentu seperti rambutan, kelengkeng, durian dan sebagainya. Ketika pohon-pohon tersebut sedang berbunga, maka digiringlah lebah-lebah yang sudah berada dalam kotak-kotak menuju perkebunan pohon tersebut. Ciri khas dari madu ternak adalah aroma madunya sesuai dengan nektar bunga dari pohon yang dihinggapi.
Sedangkan madu hutan, lebih variatif nektar bunganya karena dihisap dari berbagai pohon. Madu hutan ini dikenal lebih baik karena lebih banyak mengandung nutrisi yang terdiri dari mineral dan vitamin. Jenis tawon madu hutan pun lebih baik daripada tawon madu ternak. Madu terbaik jenis ini tidak akan beku walaupun diletakkan di freezer selama berbulan-bulan karena kadar airnya di bawah 20%.

Kendati demikian, baik madu hutan maupun madu ternak mempunyai kelemahan. Ketika dipanen pada musim hujan madu akan banyak mengandung air hujan, sedangkan sifat air hujan sendiri bersifat asam. Selain menyebabkan lebih cair, madu juga teroksidasi udara menjadi lebih asam dan akan terfermentasi. Akibatnya, timbul gas yang bisa menjebol tutup botolnya. Semut pun tidak mau menghampiri karena rasanya yang masam-masam manis. Bila madu jenis ini dimasukkan ke dalam freezer akan mudah beku, meski termasuk asli.


Sebenarnya, ada beberapa cara untuk mengetahui keaslian madu secara ilmiah. Misalnya dengan analisis karbon, analisis mikroskopis, analysis hydroxymethylfurfural, analisis polaritas cahaya dan terakhir tes keasaman. Dari lima cara tersebut, empat yang pertama harus menggunakan alat bantu yang cukup mahal harganya dan keahlian tertentu. Jadi, tidak semua orang bisa melakukannya. Sedangkan tes keasaman, merupakan tes yang terbilang relatif mudah dan tidak mahal. Tapi, masih tetap memerlukan pengetahuan tentang madu yang mendalam. Jika tidak, tetap akan sulit membedakan mana madu asli, madu campuran, dan madu buatan (artificial honey).

Di masyarakat berkembang kebiasaan uji keaslian madu yang ditunjukkan menyala ketika dibakar dengan korek api, telur bisa matang, tidak rembes ketika diteteskan pada kertas koran, dan sebagainya. Pengujian tersebut sebenarnya tidak seratus persen benar, masih butuh pembuktian melalui laboratorium.

Sebenarnya masih ada cara lain yang bisa menjadi tolok ukur dan dilakukan oleh semua orang, yakni dengan meneteskan madu di air di atas piring beling putih. Ketika piring digoyang ke kiri dan ke kanan, maka sebelum madu itu bercampur akan membentuk segi enam atau sarang lebah. Semakin lama bentuk segi enam itu bertahan, berarti semakin baik nutrisi yang terkandung dalam madu tersebut alias madu asli. Semakin cepat bentuk segi enam itu memudar, maka jelaslah itu madu campuran, karena nutrisinya sudah jauh berkurang.

Cara lain yang mungkin mudah dilakukan adalah sama seperti di atas, namun piringnya tidak digoyang-goyang. Cukup didiamkan saja. Madu asli yang memiliki kadar air rendah tidak akan membuat air di piring menjadi keruh. Sedangkan madu yang telah dicampur atau madu buatan perlahan-lahan akan membuat air menjadi keruh. Apakah semut bisa menjadi patokan untuk menentukan madu itu asli atau tidak? Pada dasarnya, sifat semut suka pada yang manis-manis, termasuk rasa manis yang ada pada madu. Namun, semakin kental madunya (kadar airnya sedikit) semakin sulit bagi semut untuk mendeteksi lokasi rasa manis madu tersebut karena molekul yang ada di dalam madu tetap utuh, tidak pecah. Sebaliknya, bila kadar airnya tinggi (di atas 20%), maka semut mudah menghampiri.

Wednesday, January 26, 2011

LIHAT Keindahan Hutan Amzon Yuk!!

READ MORE..
READ MORE..
READ MORE..
READ MORE..
READ MORE..
READ MORE..
READ MORE..

READ MORE..
READ MORE..
READ MORE..
READ MORE..