Sejak ditemukan hingga sekarang, HIV/AIDS penyakit yang disebabkan retrovirus masih belum bisa diobati secara tuntas. Maksud dari tuntas ini adalah virus tidak 100 persen hilang dari tubuh. Satu-satunya obat untuk melawan virus HIV saat ini adalah ARV atau Anti-Retrovirus.
ARV ternyata tidak hanya ada satu macam tetapi ada beberapa jenis, tergantung dari titik tangkapnya terhadap virus HIV. Penderita HIV biasanya diberikan dua atau lebih jenis ARV untuk mencegah terjadinya resistensi terhadap virus ini. Kepala VCT RS Sanglah Prof. Dr. dr. Tuty Parwati, Sp.PD.(K) saat ditemui di RS Sanglah, Selasa (2/4) kemarin memaparkan, berdasarkan titik tangkapnya, ARV dibagi atas empat jenis. Yaitu ARV yang bekerja dalam menghambat pembentukan enzim reverse yang berfungsi untuk transkrip RNA virus HIV menjadi DNA manusia, ARV jenis protease inhibitor yang berfungsi memotong untaian panjang asam amino virus sehingga tidak memiliki inti sel dan membuat pekerjaan virus terganggu, ARV kelompok fusion inhibitor yang pemakaiannya baru digunakan di luar negeri serta ARV kelompok antikemokin atau menghambat co-reseptor virus HIV untuk masuk sel darah putih yang menjadi target serangan virus.
READ MORE..
Kemajuan ilmu kedokteran dan teknologinya semakin mempermudah konsumsi obat ARV ini. Jika dulu ARV harus disimpan di pendingin, sekarang ARV lebih fleksibel disimpan dalam suhu ruangan. Satu penderita HIV bisa diberikan kombinasi dari jenis ARV. Sehingga satu penderita bisa mengonsumi dua atau lebih jenis ARV.
Untuk mempermudah konsumsi ARV, dikembangkan obat yang mengkombinasikan tiga jenis ARV dalam satu obat sehingga penderita HIV tidak perlu lagi memakan obat dengan jumlah yang banyak. "Ada juga ARV yang cukup diminum satu kali sehari, tapi untuk obat ini belum ada di Indonesia," ujar Tuty.
Berdasarkan persyaratan dasar, ARV diberikan kepada penderita HIV jika nilai CD4 atau sel daya tahan tubuhnya mencapai 350 ribu. "Sebenarnya semakin cepat terdeteksi HIV dan semakin dini menjalani terapi ARV justru semakin baik. Hanya pada saat CD4-nya masih bagus, meski ada virus, penderita HIV merasakan dirinya sehat sehingga karena alasan ini kebanyakan dari mereka tidak mau menjalani terapi ARV," papar Tuty.
Fungsi ARV adalah menekan perkembangan virus HIV di tubuh sehingga tidak menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Dengan menjalani terapi ARV secara disiplin, teratur dan konsisten, pasien HIV bisa dikatakan ''sembuh'' dari penyakit ini. "Terapi ARV secara teratur dan terkontrol membuat virus tidak terdeteksi dalam darah. Artinya jika virus tidak terdeteksi maka tidak akan menularkan ke orang lain. Pasien pun tetap sehat dan bisa beraktivitas," papar Tuty.
Ditambahkan, HIV hampir sama dengan penyakit lainnya yang tidak bisa dikatakan sembuh total. Contohnya kencing manis. Dengan mengonsumsi obat secara teratur, kencing manisnya tidak akan kumat dan bisa hidup seperti orang normal. Namun jika obatnya diputus, kencing manisnya akan kumat lagi. Sama halnya dengan HIV. Jika konsumsi ARV dihentikan, virus akan kembali berkembang biak secara tidak terkendali dan akhirnya menyerang sistem kekebalan tubuh.
Dengan meminum ARV secara konstan, penderita HIV bahkan bisa memiliki keturunan tanpa menularkan virus ke pasangan maupun anaknya. "Untuk itu ada pengaturannya mulai dari waktu senggama sampai ibu berhasil hamil harus menjalani program PMTCT atau program pencegahan transfer virus HIV dari ibu ke anak," jelas Tuty.
Kegunaan terapi ARV dalam program PMTCT sangat terlihat nyata di mana persentase angka penularan HIV dari ibu ke bayi yang mencapai 15-40 persen bisa ditekan menjadi kurang dari dua persen. Dalam dunia kedokteran, ARV masih menjadi obat satu-satunya untuk menekan virus HIV dari tubuh penderita. Jika ada teknik pengobatan yang mengaku bisa menyembuhkan HIV, lanjut Tuty, kemungkinan besar adalah mengobati penyakit komplikasi dari HIV itu sendiri.
"Karena sistem kekebalan tubuh yang diserang, penderita HIV rentan sekali terkena penyakit seperti TBC, jamur dan lainnya. Biasanya pengklaiman penyembuhan pasien HIV adalah penyembuhan penyakit komplikasinya, bukan virusnya," jelas Tuty.
Untuk VCT RS Sanglah sendiri telah terdata sekitar 2.000 orang penderita HIV yang menjalani terapi ARV. Paling lama yang mengikuti terapi mulai tahun 1992. "Sampai sekarang pasiennya masih sehat dan mampu beraktivitas seperti biasa," imbuhnya.
sumber:
Denpasar (Bali Post)
No comments:
Post a Comment